Pernahkah anda mengalami keracunan makanan ? mudah mudahan saja belum pernah dan tak akan pernah. Bagi anda yang pernah mengalaminya artinya kita punya pengalaman yang sama.  Saya juga pernah mengalami keracunan makanan. Setelah makan dengan lauk ikan tongkol asam padeh, muka saya menjadi merah seperti udang rebus, dan terasa tebal. Kepala saya jadi pusing. Saya panik karena saat itu saya sendirian di rumah.

Untunglah tetangga yang merupakan tenaga kesehatan sedang ada di rumah. Dia memberikan saya obat  ctm, kemudian saya tidur. Setelah bangun keadaan saya jadi jauh lebih baik. Mungkin saya hanya keracunan ringan atau sekedar alergi, saya tidak tahu. Yang jelas sejak saat itu saya trauma makan ikan tongkol. Saya membayangkan seandainya saat itu tetangga saya sedang bekerja, apa yang harus saya lakukan. Karena itu saya jadi banyak membaca perihal penanggulangan keracunan. Terutama keracunan makanan.

Penanggulangan keracunan ini perlu di ketahui  karena keracunan bisa terjadi  kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja .Dengan mengetahui apa yang harus kita lakukan pada orang yang terkena keracunan maka kita dapat mencegah keracunan yang lebih parah atau berat pada seseorang.

Keracunan adalah masuknya zat ke dalam tubuh kita yg dapat mengganggu kesehatan

Ada beberapa tanda atau gejala yang menunjukkan kalau seseorang telah keracunan makanan/minuman, antara lain :

–          perut mual tapi sulit sekali untuk muntah

–          Diare

–          Nyeri perut, Kepala dan demam

–          Dehidrasi

–          pada kondisi keracunan yang parah dari  mulut penderita keluar seperti busa.  Biasanya gejala gejala tersebut nampak beberapa saat setelah kita makan atau minum sesuatu.

Untuk mengatasi keadaan tersebut dapat kita lakukan upaya upaya sebagai pertolongan pertama.

Pertolongan Pertama Pada Keracunan Makanan :

–          Berikan air kelapa muda karena air kelapa muda telah terbukti memiliki khasiat sebagai penawar dan pengurai zat racun ,

–          jika tidak ada berikan susu atau air putih sebanyak banyaknya.  Pemberian cairan dalam jumlah yang banyak adalah untuk mengencerkan racun yang ada dalam lambung sekaligus menghalangi penyerapannya

–          Dapat juga di berikan norit dengan dosis 3 – 4 tablet selama 3 kali berturur turut setiap jamnya.

–          Kemudian jika penderita dalam kondisi sadar, usahakanlah agar dia memuntahkan kembali makanan/ minuman yang telah ditelannya. Hal ini efektif bila dilakukan dalam 4 jam setelah racun ditelan. Dapat dilakukan dengan cara mekanik yaitu dengan merangsang dinding faring dengan jari atau meminta penderita untuk berbaring tengkurap, dengan kepala lebih rendah daripada bagian dada.

–          Apabila dalam beberapa jam keadaannya tidak membaik ataupun  penderita dalam keadaan pingsan, segera bawa ke rumah sakit atau dokter terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Kita sering menyaksikan berita berita di televisi tentang keracunan massal. Karena itu sudah seharusnya kita lebih waspada dalam memilih makanan. Konsumsilah makanan dari bahan yang segar. Masaklah dengan cara yang benar, dan selalu cuci bersih tangan anda sebelum dan sesudah mengolah makanan.  Kita perlu tahu bahwa segala macam bahan makanan pada umumnya merupakan media yang sesuai untuk perkembangbiakan mikroorganisme. Akibat ulah mikroorganisme, bahan makanan membusuk dan mengalami kerusakan sehingga mempengaruhi kandungan nutrisi makanan tersebut.

Keracunan karena mikroorganisme dapat berupa keracunan makanan (food intoxication) dan infeksi (food infection) karena makanan yang terkontaminasi oleh parasit atau bakteri patogen. Keracunan makanan (food intoxication) dapat terjadi karena makanan tercemar toksin. Toksin bisa berupa eksotoksin yaitu toksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme yang masih hidup; enterotoksin yaitu toksin yang spesifik bagi lapisan lendir usus seperti tahan terhadap enzim tripsin dan stabil terhadap panas; aflatoksin/toksoflavin seperti pada kasus keracunan tempe bongkrek.

Keracunan makanan oleh eksotoksin dapat terjadi karena makanan nonasam dalam kaleng (sayuran, buah-buahan, daging) yang diproses kurang sempurna sehingga bakteri Clostridium botulinum atau sporanya masih dapat tumbuh. Gejala klinis keracunan makanan oleh eksotoksin antara lain muntah, penglihatan ganda, kelumpuhan otot, terkadang diare, sakit perut, nyeri otot, pupil membesar, sukar menelan, dan lemah. Gejala ini timbul dalam waktu 8 jam sampai 8 hari.

Pada kasus saya yang terkena keracunan setelah mengkonsumsi ikan tongkol, menurut artikel artiikel yang telah saya baca, disebabkan karena ikan tongkol adalah salah satu jenis ikan yang mengandung histaminn

Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Asam amino ini merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Di dalam tubuh kita, histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktif menyerang sistem saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya menyerang sistem vaskular. Pada orang-orang yang peka, histamin dapat menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah.

Histamin tidak membahayakan jika dikonsumsi dalam jumlah yang rendah, yaitu 8 mg/ 100 gr ikan. Keracunan ini biasanya akan timbul karena tingginya kadar histamin yang terdapat pada ikan yang kita konsumsi. Menurut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat, keracunan histamin akan berbahaya jika seseorang mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin 50 mg/100 gr ikan. Sedangkan kandungan histamin sebesar 20 mg/ 100 gr ikan, terjadi karena penanganan ikan yang tidak hiegenis.

Keracunan histamin, terjadi jika jaringan ikan yang rusak setelah ditangkap, menghasilkan histamin dalam jumlah yang besar. Jika dimakan, histamin akan segera menyebabkan kemerahan di muka. Juga bisa timbul mual, muntah, nyeri perut dan kaligata (urtikaria) yang terjadi beberapa menit setelah makan ikan tersebut. Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung kurang dari 24 jam

Langkah yang paling tepat untuk mencegah keracunan histamin adalah dengan cara memilih dan mengkonsumsi ikan yang masih segar dan bermutu baik. Selain itu perhatikan pula cara penanganan ikan secara tepat dan benar sehingga kemungkinan besar bahayanya dapat dihindari.